Berita Kegiatan & Artikel15 September 2026
Fakta Menarik Dunia Audit dan Compliance

Tujuh fakta menarik seputar profesi audit dan compliance yang mungkin belum banyak diketahui — dari asal-usul istilah “audit” hingga peran komite audit dalam mencegah skandal korporasi besar dunia.
Profesi audit dan compliance sering dianggap sebagai pekerjaan yang kaku dan penuh angka. Padahal, di balik laporan dan kertas kerja, ada sejarah dan fakta menarik yang jarang dibahas. Berikut tujuh di antaranya.
- Kata “audit” berasal dari bahasa Latin, audire, yang berarti “mendengar”. Pada zaman Romawi kuno, pemeriksaan catatan keuangan dilakukan secara lisan — pejabat membacakan laporan keuangan di hadapan pendengar (auditor) yang memverifikasi kebenarannya.
- Skandal Enron pada 2001 mengubah wajah profesi audit secara global. Kegagalan mendeteksi manipulasi laporan keuangan Enron memicu lahirnya Sarbanes-Oxley Act (SOX) di Amerika Serikat, yang kemudian menjadi acuan banyak negara — termasuk Indonesia melalui berbagai ketentuan OJK — dalam memperkuat independensi auditor dan peran komite audit.
- Komite audit bukan bagian dari manajemen, melainkan pengawas independen di bawah dewan komisaris. Fungsi ini penting agar penilaian terhadap laporan keuangan dan pengendalian internal tidak terpengaruh kepentingan manajemen operasional.
- “Materialitas” adalah salah satu konsep paling penting — dan paling sering disalahpahami — dalam audit. Bukan berarti auditor mengabaikan kesalahan kecil, melainkan menilai apakah suatu kesalahan cukup signifikan untuk memengaruhi keputusan pengguna laporan keuangan.
- Compliance modern mencakup jauh lebih banyak dari sekadar kepatuhan pajak. Mulai dari perlindungan data pribadi, anti-pencucian uang, hingga keberlanjutan (ESG), fungsi compliance kini menyentuh hampir seluruh lini operasional perusahaan.
- Auditor internal dan auditor eksternal punya peran yang berbeda, tapi saling melengkapi. Auditor internal bekerja sepanjang tahun untuk menilai efektivitas pengendalian, sementara auditor eksternal memberikan opini independen atas laporan keuangan pada periode tertentu.
- Teknologi mengubah cara audit dilakukan — tapi tidak menghilangkan kebutuhan akan judgment manusia. Data analytics dan otomatisasi mempercepat pemeriksaan transaksi dalam jumlah besar, namun penilaian atas risiko, etika, dan konteks bisnis tetap membutuhkan penilaian profesional manusia.
Memahami fakta-fakta ini membantu kita melihat bahwa audit dan compliance bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan fungsi strategis yang menjaga kepercayaan publik terhadap dunia usaha.
Foto: Leeloo The First / Pexels
